Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label UMFA

Katakan Tidak pada Anak

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Tidak sah syahadat tanpa mengucap kata tidak.  Bermula dari kata tidak, perubahan besar bisa terjadi, dari kafir menjadi Muslim. Bermula dari kata tidak, sebuah risalah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  (SAW) telah mengubah jazirah Arab yang jahiliyah menjadi kekuatan yang disegani dan mencerahkan. Bermula dari kata tidak, ada yang sebelumnya tampak tidak mungkin, menjadi kenyataan yang mengagumkan. Budak-budak dan orang tak berpunya yang awalnya dihinakan oleh manusia, sekarang telah berdiri dengan gagah di depan para raja dan kaisar tanpa gemetar sedikit pun kakinya. Bermula dari kata tidak, rasa rendah diri telah berubah menjadi percaya diri luar biasa tatkala berhadapan dengan para pembesar. Mereka tidak minder, tidak pula sombong.   Adakalanya kata tidak bisa diganti dengan ungkapan lain. “Tidak boleh buang sampah sembarangan” bisa kita tukar dengan kalimat “buanglah sampah pa...

Hari-hari Mendatang Anak Kita, :)

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Apakah tantangan yang kita hadapi berbeda dengan tantangan yang dihadapi orang-orang sebelum kita? Sekilas mungkin ya, tetapi jika kita mau mencermati lebih jauh, rasanya tak ada perubahan yang bersifat prinsip. Hari ini sebagian orangtua mungkin sedang resah oleh hiruk-pikuk pornografi yang beredar melalui perangkat elektronik di sekitar kita. Tetapi jika kita mau jujur, generasi sebelum kita juga menghadapi tantangan serupa dalam mendidik anak-anak mereka. Hanya saja bentuknya beda. Sekarang sebagian anak menyaksikan pornografi melalui HP, sedangkan dulu melihat di sungai-sungai atau pemandian umum.   Apakah situasi zaman kita benar-benar sangat berbeda dibanding zaman-zaman terdahulu? Jika benar zaman kita sangat berbeda, niscaya tak ada lagi gunanya kitab suci. Begitu pula berbagai pedoman pendidikan yang ditulis orang-orang terdahulu, tak ada satu pun yang dapat kita ambil sebagai petunjuk. Kita benar-benar menghadapi situasi yang tak dapat kita ...

Untungnya Melahirkan itu Sakit... :)

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran, 3: 190-191)   Bukan kebetulan kalau melahirkan itu sakit. Andaikata Allah Ta’ala menghendaki, tak ada yang sulit untuk menghapus rasa sakit itu. Mudah pula bagi Allah Ta’ala untuk mencabut susah payah yang dirasakan oleh ibu-ibu hamil sejak awal mengandung hingga siap melahirkan. Cukuplah bagi Allah Ta’ala bertitah “Kun!” maka jadilah apa yang Ia kehendaki. Ingatlah ketika Allah Ta’ala berfirman, “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk me...

Renungan!!! :(

Anak-anak memerlukan ketulusan cinta kita kepada mereka. Tetapi itu saja tidak cukup. Betapa banyak orangtua yang mencintai anak anaknya sepenuh kesungguhan dan memberi perhatian dari waktu ke waktu, tetapi anak tetap merasa tidak dicintai. Apalagi di zaman ini kian banyak anak yang bahkan tak sempat merasai belaian tulus penuh kelembutan dari ibunya. Mereka memang lahir dari keluarga terdidik, tapi bukan keluarganya yang paling banyak mengasuhnya. Mereka memang lahir dari ibu yang terpandang, tapi bukan senyuman ibu yang paling sering mereka pandang. Di luar itu, ada anak-anak yang tetap memperoleh limpahan kasih-sayang orangtua, tetapi tak merasa dicintai. Sebabnya, orangtua tak memperhatikan anak-anak dengan baik dan enggan membekali diri dengan ilmu sebagai orangtua. Ini menyebabkan orangtua tak mengenal anak-anaknya dengan baik, tak memahami apa yang menjadi kerisauan anak dan tak memberi perlakuan yang sesuai dengan keadaan anak. Semoga dapat kita renungkan bersama. Repost: On...

Mengungkapkan Kemarahan, Menjaga Kemesraan...

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Suatu saat seorang suami datang kepada saya. Belum saya persilakan masuk, laki‐laki muda ini segera duduk dan berbicara panjang lebar, bahkan sebelum memperkenalkan diri dan bertanya apakah saya punya waktu saat itu. Ia terus saja berbicara. Ketika hand‐phone saya berdering dan kemudian saya berbicara dengan penelpon, lelaki ini tetap saja bercerita dengan meluap‐luap. Tak terkendali ia bicara. Saya ke dapur mengambilkan minum untuknya, ia tetap berbicara sendirian. Akhirnya, saya berkesimpulan tamu saya kali ini pastilah mempunyai beban emosi yang sangat berat. Begitu beratnya sehingga ia sudah kehilangan kendali. Ia tak lagi membutuhkan pendengar yang mau mengerti perkataannya. Ia hanya butuh kesempatan untuk menumpahkan isi hati dan kekesalannya dengan tuntas. Pertemuan pertama hampir tak ada yang bisa digali, kecuali bahwa ia mempunyai konflik berat dengan istrinya. Meski waktu masih memungkinkan untuk berbincang panjang dengannya, tet...

Saling Mendekat, :)

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Pernah berselisih dengan isteri? Alhamdulillah, saya pernah. Sebuah perselisihan yang membuat rumah berkurang keindahannya. Bukan karena terjadi pertengkaran besar, tetapi perselisihan “kecil” (adakah perselisihan yang bisa kita sebut kecil?) membuat apa yang indah dan menyenangkan, terasa hambar dan menegangkan. Penghujung malam yang seharusnya mengantarkan kita pada tidur yang tenang, kali ini menyisakan ganjalan perasaan yang membuat tidur kita seakan terjaga. Mata terpejam, tapi hati gelisah. Ingin memicingkan mata, tetapi daya tahan untuk terjaga sudah melemah. Apa yang ingin saya ceritakan kepada Anda? Bukan perselisihan itu, tetapi pelajaran besar yang ada di baliknya. Ketika kita menginginkan rumah-tangga kembali dipenuhi kehangatan, maka kita berusaha untuk mendekatinya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Sebab tanpa ketulusan, api yang mulai tersulut tak akan bisa padam, meski api itu masih sangat kecil. Tanpa ketulusan saat mendekati, ha...

Tak Ada Kedewasaan Instan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Makanan dan minuman boleh instant. Tanpa bersusah meracik, setiap orang bisa membuat mie dengan rasa yang sama. Tak ada bedanya kopi bikinan anak kecil dengan hasil seduhan orang dewasa. Sebabnya, mereka sama-sama pakai kopi instant. Tanpa perlu memahami karakter kopi, setiap orang bisa menghidangkan kopi dengan rasa yang cukup enak di lidah karena bahannya instant. Tetapi, samakah kopi instant dengan kopi yang diracik secara khusus oleh koki berpengalaman? Sangat berbeda. Sebagaimana berbeda sekali nilai dan harga sebuah jam tangan yang dibuat oleh tangan seorang ahli yang terampil dan berpengalaman dengan arloji pabrikan yang dalam waktu sehari bisa memproduksi ratusan dan bahkan ribuan keping. Tak ada kecerdasan instant. Apalagi kedewasaan. Kita mungkin bisa menjadikan seorang anak tiba-tiba tampak hebat karena mampu menggambar, menulis atau membaca dengan mata tertutup. Tetapi sangat berbeda kemampuan menebak, menginderai dan mengenal dengan kemampuan ...

Berjuang Melawan Diri Sendiri

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Sebagian manusia memberikan motivasi yang tampaknya benar, tetapi jika kita mengikutinya, maka akan menjauhlah kita dari hidayah. Inilah langkah yang menjadikan kita semakin mengagungkan hawa nafsu, entah apa pun namanya dalam dunia motivasi. Di antara kalimat motivasi yang sekilas bagus, tapi kalau kita ikuti dapat membuat kita terjerumus itu adalah: "Jangan paksakan apapun yang tidak kau sukai. Jika bukan dari keinginan diri sendiri, maka segalanya hanyalah sesuatu yang sia-sia." Sungguh, sangat berbeda dengan yang agama kita ajarkan. Kita diperintah untuk bersungguh sungguh melaksanakan kewajiban, meskipun kita tidak menyukainya. Kita diperintahkan untuk berjuang melawan hawa nafsu kita. Bukan sibuk memperturutkannya. Acuan utama kita saat melakukan sesuatu adalah, ia sesuai dengan tuntunan atau bertentangan. Jika sesuai tuntunan, kita perlu belajar menaklukkan diri sendiri agar apa yang tidak kita sukai tersebut, akhirnya dapat menjadi bagian...

Agar Tak Tertipu Persepsi Diri Sendiri

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Mari sejenak kita tundukkan hati seraya berdo'a dengan penuh kesungguhan: " ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟﺤَﻖَّ ﺣَﻘّﺎً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﻟﺘِﺒَﺎﻋَﺔَ ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟﺒَﺎﻃِﻞَ ﺑَﺎﻃِﻼً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﺟْﺘِﻨَﺎﺑَﻪُ " "Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah rezeki kepada kami kemampuan untuk mengikutiny...

Mendidik Niat!!!

Niat. Satu kata yang mungkin bisa jadi kata paling mujarab ketika kita sudah merasa lemah atau bahkan tak sanggup. Kenapa mujarab? Karena dengan niat yang baik, niat yang kuat, disitulah kita mendapatkan kekuatan untuk bertahan. Semacam pemberi harapan yang setia menemani kita dari awal, saat kita terjatuh, ataupun saat kita bahagia karena keberhasilan usaha kita... Bukankah 1000 anak tangga pun diraih dengan 1 langkah kecil? Begitu pula niat, niat yang bagai langkah kecil perlahan membawa kita melewati 1000 anak tangga. Niat tak menjanjikan jalan yang lurus, tanpa hambatan. Tapi niat menjanjikan dirinya selalu ada dalam rendah atau tinggimu nanti... Bicara tentang niat, adalah tentang seberapa kuat kita menanamkannya dalam diri kita. Semakin kuat kita menanamkannya, semakin kuat pula kita meraih tanpa perlu goyah. Namun, semakin rapuh niat yang kita bangun, angin sepoipun dapat meruntuhkannya saking rapuhnya niat dalam diri kita. Mengingat pentingnya sebuah niat dalam kehidupan say...

Hakikat Ikhlas, :)

Ikhlas, kata yg mudah terucap namun sulit untuk di praktekan. Semacam rumus matematika tanpa angka, hanyalah rimbun tulisan belaka... Namun sulit bukan berarti tidak bisa, kan? Sekarangpun sekarang sedang berjuang bagaimana menggenapkan ikhlas ini di perjalanan hidup saya. Sebuah ilmu yang bukan hanya ditempuh 3 tahun, 4 tahun, atau bahkan 6 tahun. Tapi sebuah ilmu yang selalu menempa kita bahkan untuk seumur hidup kita. Bukan hanya dari ujian tulis saja, ujian praktek saja, tes kesehatan saja, atau tes psikologi saja... Yang ketika hari itu dinyatakan lulus, maka masuklah kita ke dunia yg kita inginkan... Ikhlas menguji kita setiap saat, setiap waktu. Seperti halnya sabar... Ia menjanjikan sesuatu yang indah, berkahNya. Bukankah sesuatu yg berkah lebih baik daripada yang mewah? Sulit? Memang ada kenikmatan yg prosesnya instan? Ingin makan pisang saja, pak tani harus menanamnya dari tunas, tumbuh menunggu waktu, menunggu pisang berbunga, berbuah, menjadi tua, dan masak... :) Berikut a...

Agar Engkau Tak Terabaikan

Oleh: Ust. Mohammad Fauzil Adhim Kapankah saat terbaik menyampaikan nasehat kepada anak? Kapankah masa yang tepat untuk mempengaruhi jiwa anak? Menurut sebagian orang, saat terbaik itu adalah ketika anak menjelang tidur. Mengapa demikian? Konon, otak anak berada dalam keadaan gelombang alpha. Pada saat itu, otak lebih siap menerima nasehat. Di luar persoalan benar tidaknya anggapan tersebut, ada berbagai kerepotan jika untuk mempengaruhi jiwa anak harus menunggu ia hampir tertidur. Jangan-jangan kitalah yang justru tertidur lebih dulu dibanding anak yang mau kita pengaruhi jiwanya. Pertanyaan yang perlu kita jawab dan renungkan adalah, mengapa pada masa dulu orangtua dapat memberi nasehat dan memerintah anak kapan saja? Bahkan saat baru pulang sekolah,anak tetap mentaati perintah dan mendengarkan nasehat orangtua. Tak ada keluh-kesah, tak ada penolakan. Bahwa sekali masa anak merasa berat dengan perintah orangtua, itu perkara yang wajar.  Tetapi pada umumnya anak mendengar na...

Ikhlas :)

Pas jalan-jalan di linimasa twitter, dan nemu ini di akun @kupinang yang tak lain dan tak bukan adalah akun milik Ust. Mohammad Fauzil Adhim... Hihihi. Semoga bermanfaat bagi semuanya. :) Oleh: Ust. Mohammad Fauzil Adhim Inilah Sufyan bin Sa'id Ats-Tsauri, seorang ulama hadis yang sangat berpengaruh. Keutamaannya dalam ilmu hadis membuat Yahya bin Ma'in dan beberapa ulama lainnya memberi julukan "Amirul Mukminin fil Hadits". Hanya dua orang yang pernah mendapat julukan tersebut, satu lagi adalah Malik bin Anas, meskipun keduanya bukanlah orang yang menyukai gelaran-gelaran hebat yang disematkan kepadanya. Ini merupakan gelaran yang dikatakan orang atas dirinya, bukan dianugerahkan kepadanya lalu diterima dengan hati bangga. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah Ta'ala pernah mengingatkan kita, ”Tidaklah aku obati sesuatu yang lebih berat daripada mengobati niatku, sebab ia senantiasa berbolak-balik pada diriku.” Apa maknanya? Tidak ada yang lebih berat dalam ...

:: Benahi Niat sebelum Menikah ::

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Perbaiki niat saat menikah. Janganlah salah niat menyebabkan melemahnya keyakinan kepada sifat-sifat Allah Ta'ala. Mengharap suami atau menantu kaya karena mengangankan kehormatan dari hartanya, dapat menjadikan kita lupa yang lebih mendasar, sekaligus melalaikan bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala yang Maha Kaya. Disamping itu, buruknya niat dapat menjadikan seseorang lemah dan hina, bahkan sebelum ia meraih apa yang ia impian sepenuh harapan. Suatu ketika seorang laki-laki datang menemui Sufyan bin Uyainah. Ia berkata,  “Wahai Abu Muhammad (panggilan Sufyan bin Uyainah), aku datang ke sini dengan tujuan mengadukan fulanah (istrinya sendiri). Aku adalah orang yang hina di hadapannya”. Beberapa saat lamanya, Ibnu Uyainah menundukkan kepalanya. Ketika beliau telah menegakkan kepalanya, beliau berkata, “Mungkin, dulu engkau menikahinya karena ingin meningkatkan martabat dan kehormatan?” “Benar, wahai Abu Muhammad,” tegas...