Langsung ke konten utama

Mendidik Niat!!!

Niat. Satu kata yang mungkin bisa jadi kata paling mujarab ketika kita sudah merasa lemah atau bahkan tak sanggup. Kenapa mujarab? Karena dengan niat yang baik, niat yang kuat, disitulah kita mendapatkan kekuatan untuk bertahan. Semacam pemberi harapan yang setia menemani kita dari awal, saat kita terjatuh, ataupun saat kita bahagia karena keberhasilan usaha kita...

Bukankah 1000 anak tangga pun diraih dengan 1 langkah kecil? Begitu pula niat, niat yang bagai langkah kecil perlahan membawa kita melewati 1000 anak tangga. Niat tak menjanjikan jalan yang lurus, tanpa hambatan. Tapi niat menjanjikan dirinya selalu ada dalam rendah atau tinggimu nanti...

Bicara tentang niat, adalah tentang seberapa kuat kita menanamkannya dalam diri kita. Semakin kuat kita menanamkannya, semakin kuat pula kita meraih tanpa perlu goyah. Namun, semakin rapuh niat yang kita bangun, angin sepoipun dapat meruntuhkannya saking rapuhnya niat dalam diri kita.

Mengingat pentingnya sebuah niat dalam kehidupan saya, maka berbagi artikel yang menurut saya adalah salah satu booster niat, hihihi. Berikut adalah cara mendidik niat yang saya dapatkan dari Ust. Mohammad Fauzil Adhim

Selamat membaca!!!

Ada hadis yang perlu kita renungkan, di saat Allah Ta'ala limpahkan rezeki yang berlebih maupun ketika rezeki yang ada pada kita terasa pas-pasan bahkan sampai harus mengepas-ngepaskan karena kita merasa rezeki kita tidak dapat memenuhi apa yang kita perlukan untuk hidup sehari-hari. Renungkan sejenak sabda Nabi Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam:


إِنَّمَـا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلْمًـا فَهُوَ يَـتَّـقِيْ فِيْهِ رَبَّـهُ وَيَصِلُ فِيْهِ رَحِـمَهُ وَيَعْلَمُ لِلهِ فِيْـهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْـمَنَازِلِ.وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًـا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِـّـيَّـةِ يَقُوْلُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ ، فَهُوَ بِنِـيَّـتِـهِ فَأَجْرُهُـمَـا سَوَاءٌ , وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَلَـمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًـا فَهُوَ يَـخْبِطُ فِـي مَالِـهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيْهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِـيْـهِ رَحِـمَهُ وَلَا يَعْلَمُ للهِ فِـيْـهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْـمَنَازِلِ , وَعَبْدٍ لَـمْ يَرْزُقْـهُ اللهُ مَالًا وَلَا عِلْمًـا فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِـيْ مَالًا لَعَمِلْتُ فِيْـهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُـمَـا سَوَاءٌ


"Sesungguhnya dunia hanyalah diberikan untuk empat orang. (Pertama), hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertakwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahmi, dan ia menyadari bahwa dalam harta itu ada hak Allah. Inilah kedudukan paling baik (di sisi Allah). (Kedua), hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan NIATNYA YANG JUJUR ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama. (Ketiga), hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu, lalu ia menggunakan hartanya sewenang-wenang tanpa ilmu, tidak bertakwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahmi dan tidak mengetahui bahwa dalam harta itu ada hak Allah. Ini adalah kedudukan paling jelek (di sisi Allah). Dan (keempat) hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Maka dengan niatnya itu, keduanya mendapatkan dosa yang sama.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-Baghawi & Ath-Thabrani).



Ada pelajaran berharga yang dapat kita renungkan dari hadis ini. Pertama, niat baik yang jujur dapat menjadi sebab Allah Ta'ala limpahkan pahala sebagaimana orang yang dimampukan Allah Ta'ala untuk beramal shalih dengan amalan yang baik, besar dan sesuai tuntunan. Sebaliknya, niat yang buruk pun jika itu merupakan hal yang sungguh-sungguh diniatkannya, akan mengantarkan kepada dosa sebanyak orang yang melakukannnya. Niat buruk, sejauh ini merupakan lintasan yang kemudian kita tepis dengan tidak melakukannya, bahkan berusaha mencegah diri kita dari melakukannya, maka niat buruk tersebut tidak menjatuhkan kita kepada dosa.

Mari kita ingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةً ، فَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ لَهُ عَشْرًا ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، لَـمْ تُكْتَبْ شَيْئًا فَإِنْ عَمِلَهَا ، كُتِبَتْ سَيِّـئَةً وَاحِدَةً

"Barangsiapa menginginkan (berbuat) kebaikan kemudian tidak mengerjakannya, maka satu kebaikan ditulis untuknya. Jika ia mengerjakan kebaikan tersebut, maka sepuluh kebaikan ditulis baginya. Dan barangsiapa menginginkan keburukan kemudian tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis apa-apa baginya. Jika ia mengerjakan kesalahan tersebut, maka ditulis satu kesalahan baginya." (HR. Muslim).


Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita betapa pentingnya mendidik niat agar yang senantiasa hidup dalam diri kita adalah keinginan yang kuat untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang Allah Ta'ala ridhai. Pada saat yang sama, kita berusaha untuk menepis niat buruk dan tidak main-main dengannya. Meski lintasan keinginan untuk melakukan keburukan belum terhitung dosa, tetapi jika ia kita biarkan menguat menjadi tekad atau kita ungkapkan kepada orang lain dalam bentuk perkataan sehingga menumbuhkan kepadanya untuk berbuat, maka boleh jadi kita mendapatkan dosa tanpa ikut melakukannya. Ini terjadi karena kitalah yang menginspirasi orang tersebut melakukan keburukan. Maka, berhati-hatilah dengan niat buruk yang muncul dalam diri kita. Tidak mengungkapkannya kepada orang lain, tidak menuliskan di buku catatan atau gadget kita dan tidak memperkuatnya menjadi tekad.

Perhatikan kembali hadis pertama dalam catatan ini. Semoga Allah Ta'ala limpahkan hidayah kepada kita semua.

Pelajaran lain yang dapat kita petik adalah, niat yang jujur (صَادِقُ النِـّـيَّـةِ) mengantarkan kita meraih pahala sebanyak orang yang benar-benar melakukannya. Mari kita perhatikan sekali lagi: niat yang jujur. Artinya, ini benar-benar menjadi keinginan kuat kita. Kita memiliki tekad yang amat kuat untuk mampu melakukannya, terobsesi dengan amalnya. Bukan hartanya. Yang senantiasa menjadi kerinduan kita adalah amal yang baik tersebut. Bersebab niat yang jujur itulah Allah Ta'ala berikan kepada kita pahala yang sama besarnya dengan orang yang telah benar-benar melakukan kebaikan itu.

Niat yang jujur berarti, ia melakukan upaya-upaya untuk mendekatkan dirinya kepada amal shalih tersebut tatkala ada kesempatan baginya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Upaya untuk mendidik niat dapat saja kita lakukan dengan menuliskan dalam catatan kita atau dalam bentuk rencana. Tetapi berhati-hatilah dari berpanjang angan-angan. Kita menuliskan, sekiranya kita melakukan itu, untuk mendidik niat kita dan belajar melakukan sesuatu secara terencana. Di luar itu, kita harus terus-menerus berusaha untuk berserah diri kepada Allah Ta'ala seraya senantiasa memeriksa adakah yang kita inginkan tersebut termasuk amal shalih yang Allah Ta'ala ridhai? Jika sekiranya kita mengetahui ada yang keliru dalam niat kita, maka kita segera membenahi dan mengubahnya. Boleh jadi seseorang telah memiliki niat kuat untuk melakukan kebaikan --semoga ia mendapatkan pahala dari niat baiknya tersebut-- tetapi ia keliru dalam hal menilai apa yang ia akan lakukan. Ia menyangka kebaikan, padahal bukan termasuk bagian dari ketaatan maupun kebaikan yang diridhai Allah 'Azza wa Jalla.

Itu sebabnya, selain mendidik niat, kita juga perlu terus-menerus belajar untuk mengilmui tentang apa-apa yang kita tekadkan dan lakukan. Sesungguhnya, nilai amal terletak pada dua perkara, yakni ikhlash dan benar. Ikhlash berarti amal tersebut kita lakukan hanya untuk mengharap ridha Allah 'Azza wa Jalla, benar berarti kita melakukan sesuai tuntunan Allah subhanahu wa ta'ala dan penjelas sekaligus contoh dari Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam.

Sebagian orang berkata:

"Tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah. Karena Dia akan menghapus bagian yang salah."

Kalimat tersebut sepintas tampak baik, tetapi ada beberapa kesalahan serius di dalamnya. Pertama, merupakan tugas kita untuk senantiasa memeriksa apakah amal kita, termasuk keinginan dan rencana kita, merupakan perkara yang dibenarkan oleh Allah 'Azza wa Jalla atau tidak. Maka kita harus terus-menerus belajar seraya meminta petunjuk kepada Allah Ta'ala, memohon ditunjuki jalan yang lurus. Atas sebab ini, kita tak patut berkata "...berikan penghapusnya kepada Allah". Kedua, Allah Ta'ala bukan editor atas niat kita, tekad kita dan rencana-rencana kita. Yang harus kita lakukan adalah senantiasa berusaha untuk melakukan hal yang baik, mengetahui dan mengerti apa yang Allah Ta'ala perintahkan kepada kita dalam berbagai keadaan, serta menyadari tiada daya dan upaya selain semata-mata karena Allah Ta'ala semata. Ketiga, kalimat "tuliskan rencanamu dengan sebuah pensil, namun berikan penghapusnya kepada Allah" amat rentan menjerumuskan kita kepada ghurur (terkelabui). Kita menganggap bahwa diri kita benar, baik dan sempurna dan penggenggam kekuasaan sehingga dengannya kita dapat "memberikan" atau "tidak memberikan" penghapusnya kepada Allah Ta'ala. Jika kita tak berhati-hati, ia bahkan dapat menjatuhkan kita ke dalam keadaan bersombong kepada Allah 'Azza wa Jalla. Maka, betapa perlu kita senantiasa berdo'a memohon perlindungan kepada Allah Ta'ala dari ketertipuan oleh persepsi diri sendiri. Keempat, kesalahan tetaplah merupakan kesalahan yang menjadikan kita memperoleh dosa sebanyak yang melakukan jika kesalahan itu sungguh-sungguh ada dalam rencana kita. Diri yang lemah ini memang tak luput dari salah, tetapi kita tak dapat berlepas-tangan darinya karena merasa telah "memberikan penghapusnya kepada Allah". Karenanya, kita senantiasa memohon maaf kepada Allah Ta'ala, mengharap ampunan dan menguatkan tekad untuk setiap saat siap rujuk kepada nash (mengoreksi pendapat karena kita menjumpai nash yang bertentangan dengan pendapat kita). Kelima, jika kita tidak mampu mewujudkan kebaikan yang menjadi tekad dan niat kita, bukan berarti itu merupakan bagian yang salah. Ia tetap menjadi sebab Allah Ta'ala limpahkan pahala kepada kita jika kita benar-benar jujur dengan niat kita (صَادِقُ النِـّـيَّـةِ).

Wallahu a'lam bish-shawab.

Ingatkan saya yang bodoh ini. Kepada Allah Ta'ala saya memohon ampun dan meminta petunjuk.

Repost: Onna,
@home, 210515 11:53

Postingan populer dari blog ini

Hati ini milik Allah... <3

Hai hati, apa kabarmu hari ini? Aku berharap engkau sebaik yang aku inginkan... Bahkan lebih dari itu... Nice! I got my true feelings... Im hurt. Cause this missing piece. Hey, you over there, have you feel the same feelings like me? Sudahhh... Aku memang perlu untuk harus menganggap waktu dan jarak hanya sekedar angka. Bukan lagi sebagai kerangka yang membuatku semakin tua dalam hitungan angka itu, kan? Sisa waktu long distance semakin tipis saja, itu tandanya temu akan segera tergapai. Tapi jangan lupakan... Itu pula tanda long distance relationship ini semakin lama kita nikmati. Sebagaimana roti yang harus kita nikmati dengan selainya, entah coklat, susu, kacang, atau sekedar madu. Begitupula hubungan ini. Hak sepenuhnya ada di tanganmu, sayang. Harapku tak rumit. Hanya inginkan semua baik-baik saja, sampai berujung temu yang bukan sekedar harapku. Tapi juga harapmu. So? Will you go in chance make it come true? Or you just wanna make it enjoy by your side only? Entahlah. Hati in...

RESUME KULWAP HSMN YOGYAKARTA W/ Maya DwiLestari

&#127801;&#127801;NOTULENSI KULWAP HSMN YOGYAKARTA&#127801;&#127801; &#127810;➖➖➖➖➖➖➖&#127810; &#128197; Hari / tanggal: Rabu, 28 September 2016 ⏰ Waktu: 19.30-20.30 &#128100; Narasumber : Maya Dwilestari (Ummu Jita) &#128218; Tema : Catatan Penting Melaksanakan Homeschooling &#127908; Moderator : Andhita Nur Suryantini &#128221; Notulensi : Ayu Kinanti Dewi &#127801;&#127801;&#127801;&#127801;&#127801;&#127801;&#127801;&#127801; Profil Narasumber  Nama: Maya Dwilestari TTL: jkt, 18/05/1981 Alamat: klender, jaktim Aktivitas: irt, hs Status: menikah, 3 anak &#127801;&#127801;&#127801;&#127801;&#127801;&#127801;&#127801;&#127801; *MATERI:* Naik-turun menjalankan HS/HE merupakan bagian dari proses HS/HE itu sendiri. Buatlah sebuah panduan penting, agar keluarga HS/HE tetap ingat dan bersemangat menjalankan proses HS/HE mereka. Berikut catatan saya, yang saya ambil d...

REVIEW I CHALLENGE LEVEL I -- KOMUNIKASI PRODUKTIF

* _ Review Tantangan 10 Hari _ * _ Materi Bunda Sayang #1 : _ _ Institut Ibu Profesional _ * KOMUNIKASI PRODUKTIF * Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita. * KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI * Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas. Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kat...