Langsung ke konten utama

Postingan

Tak Ada Kedewasaan Instan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Makanan dan minuman boleh instant. Tanpa bersusah meracik, setiap orang bisa membuat mie dengan rasa yang sama. Tak ada bedanya kopi bikinan anak kecil dengan hasil seduhan orang dewasa. Sebabnya, mereka sama-sama pakai kopi instant. Tanpa perlu memahami karakter kopi, setiap orang bisa menghidangkan kopi dengan rasa yang cukup enak di lidah karena bahannya instant. Tetapi, samakah kopi instant dengan kopi yang diracik secara khusus oleh koki berpengalaman? Sangat berbeda. Sebagaimana berbeda sekali nilai dan harga sebuah jam tangan yang dibuat oleh tangan seorang ahli yang terampil dan berpengalaman dengan arloji pabrikan yang dalam waktu sehari bisa memproduksi ratusan dan bahkan ribuan keping. Tak ada kecerdasan instant. Apalagi kedewasaan. Kita mungkin bisa menjadikan seorang anak tiba-tiba tampak hebat karena mampu menggambar, menulis atau membaca dengan mata tertutup. Tetapi sangat berbeda kemampuan menebak, menginderai dan mengenal dengan kemampuan ...

Berjuang Melawan Diri Sendiri

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Sebagian manusia memberikan motivasi yang tampaknya benar, tetapi jika kita mengikutinya, maka akan menjauhlah kita dari hidayah. Inilah langkah yang menjadikan kita semakin mengagungkan hawa nafsu, entah apa pun namanya dalam dunia motivasi. Di antara kalimat motivasi yang sekilas bagus, tapi kalau kita ikuti dapat membuat kita terjerumus itu adalah: "Jangan paksakan apapun yang tidak kau sukai. Jika bukan dari keinginan diri sendiri, maka segalanya hanyalah sesuatu yang sia-sia." Sungguh, sangat berbeda dengan yang agama kita ajarkan. Kita diperintah untuk bersungguh sungguh melaksanakan kewajiban, meskipun kita tidak menyukainya. Kita diperintahkan untuk berjuang melawan hawa nafsu kita. Bukan sibuk memperturutkannya. Acuan utama kita saat melakukan sesuatu adalah, ia sesuai dengan tuntunan atau bertentangan. Jika sesuai tuntunan, kita perlu belajar menaklukkan diri sendiri agar apa yang tidak kita sukai tersebut, akhirnya dapat menjadi bagian...

Agar Tak Tertipu Persepsi Diri Sendiri

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim Mari sejenak kita tundukkan hati seraya berdo'a dengan penuh kesungguhan: " ﺍﻟﻠﻬُﻢَّ ﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟﺤَﻖَّ ﺣَﻘّﺎً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﻟﺘِﺒَﺎﻋَﺔَ ﻭَﺃَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟﺒَﺎﻃِﻞَ ﺑَﺎﻃِﻼً ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍﺟْﺘِﻨَﺎﺑَﻪُ " "Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah rezeki kepada kami kemampuan untuk mengikutiny...

Mendidik Niat!!!

Niat. Satu kata yang mungkin bisa jadi kata paling mujarab ketika kita sudah merasa lemah atau bahkan tak sanggup. Kenapa mujarab? Karena dengan niat yang baik, niat yang kuat, disitulah kita mendapatkan kekuatan untuk bertahan. Semacam pemberi harapan yang setia menemani kita dari awal, saat kita terjatuh, ataupun saat kita bahagia karena keberhasilan usaha kita... Bukankah 1000 anak tangga pun diraih dengan 1 langkah kecil? Begitu pula niat, niat yang bagai langkah kecil perlahan membawa kita melewati 1000 anak tangga. Niat tak menjanjikan jalan yang lurus, tanpa hambatan. Tapi niat menjanjikan dirinya selalu ada dalam rendah atau tinggimu nanti... Bicara tentang niat, adalah tentang seberapa kuat kita menanamkannya dalam diri kita. Semakin kuat kita menanamkannya, semakin kuat pula kita meraih tanpa perlu goyah. Namun, semakin rapuh niat yang kita bangun, angin sepoipun dapat meruntuhkannya saking rapuhnya niat dalam diri kita. Mengingat pentingnya sebuah niat dalam kehidupan say...

Hakikat Ikhlas, :)

Ikhlas, kata yg mudah terucap namun sulit untuk di praktekan. Semacam rumus matematika tanpa angka, hanyalah rimbun tulisan belaka... Namun sulit bukan berarti tidak bisa, kan? Sekarangpun sekarang sedang berjuang bagaimana menggenapkan ikhlas ini di perjalanan hidup saya. Sebuah ilmu yang bukan hanya ditempuh 3 tahun, 4 tahun, atau bahkan 6 tahun. Tapi sebuah ilmu yang selalu menempa kita bahkan untuk seumur hidup kita. Bukan hanya dari ujian tulis saja, ujian praktek saja, tes kesehatan saja, atau tes psikologi saja... Yang ketika hari itu dinyatakan lulus, maka masuklah kita ke dunia yg kita inginkan... Ikhlas menguji kita setiap saat, setiap waktu. Seperti halnya sabar... Ia menjanjikan sesuatu yang indah, berkahNya. Bukankah sesuatu yg berkah lebih baik daripada yang mewah? Sulit? Memang ada kenikmatan yg prosesnya instan? Ingin makan pisang saja, pak tani harus menanamnya dari tunas, tumbuh menunggu waktu, menunggu pisang berbunga, berbuah, menjadi tua, dan masak... :) Berikut a...