Langsung ke konten utama

Postingan

Henry David Thoreau '98, in please understand me.

If you don't want what I want, please try not to tell me that my want is wrong. Or if my beliefs are different from yours, at least pause before you set out to correct them. Or if my emotion seems less or more intense than yours, given the same circumstances, try not to ask me to feel other than I do. Or if I act, or fail to act, in the manner of your design for action, please let me be. I don't, for the moment at least, ask you to understand me. That will come only when you are willing to give up trying to change me into a copy of you. If you will allow me any of my own wants, or emotions, or beliefs, or actions, then you open yourself to the possibility that some day these ways of mine might not seem so wrong, and might finally appear as right for me. To put up with me is the first step to understand me. Not that you embrace my ways as right for you, but that you are no longer irritated or disappointed with me for my seeming waywardness. And ...

all what i want is you

Aku inginkan dia yang bisa bicara benar padaku dan bukan hanya membenarkan kata-kataku. Aku inginkan dia yang bisa kembali menegakkan bahuku dan mampu membuatku menatap kembali kedepan, bukan seseorang yang hanya memberiku sandaran yang membuatku menyesali dan tengelam dalam kegagalanku. Aku inginkan dia yang mampu menjadi imam dalam hidupku dan mampu membawaku mendekat pada apa yang aku yakini. Aku inginkan dia yang tidak menghandalkan kata manis untuk membuatku luluh namun membuatku merasa teristimewa hanya dengan kemampuannya dalam memahamiku. Aku inginkan dia yang mengajariku untuk terlalu sibuk berusaha hingga aku lupa meluangkan waktuku untuk terus mengeluhkan sesuatu yang belum kucapai. Aku inginkan dia yang mampu mengingatkanku saat aku lengah dan terlena dalam keberhasilan yang kucapai. Aku inginkan dia yang bisa menerimaku apa adanya, memberiku tempat disisinya sebagai teman berbagi dan menghargaiku sebagai seorang wanita yang ia cintai. Ak...

"Love will find the way..."

(by Virginia Satir...) but i'm proudly present it just for to know yu so well. "i want to love you without clutching you. Appreciate you without invading. Invite you without demanding. Criticize you without blaming. And help you without insulting. If i can have the same from you then we can truly enrich each other..." @myBed room, (Boy, i hope so with us...) 04:45 p.m 190511

Belajar dari "Pohon..."

1. Pohon tidak makan dari buahnya sendiri. Buah adalah hasil dari pohon. Darimana pohon memperoleh makan? Pohon memperoleh makan dari tanah. Semakin dalam akarnya makin banyak nutrisi yang diserap. Ini berbicara tentang kedekatan hubungan kita dengan 4lapisan. Sebelum pohon kurma itu tumbuh, dia berakar begitu dalam sampai kemudian menembus 4lapisan tersebut dan menghasilkan buah yang manis di tengah padang pasir. Ada proses tekanan begitu hebat ketika kita menginginkan hasil yang luar biasa. Seperti juga pegas yang memiliki daya dorong kuat ketika ditekan. 2. Pohon tidak tersinggung ketika buahnya dipetik orang. Kadang kita protes kenapa kerja keras kita yang menikmati justru orang lain. Inilah prinsip memberi. Kita ini bukan bekerja untuk hidup, tetapi bekerja untuk memberi buah. Kita bekerja keras supaya kita dapat memberi lebih banyak kepada orang yang membutuhkan. Jadi, bukan untuk kenikmatan sendiri. Cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, tapi jangan pernah ad...

"Karena..."

Karena aku mendekatkanmu, pada hatiku. Seperti warna jingga memoles ujung-ujung biang lala senja. Seperti gerimis yang suka rela melepas angkasa, mencumbui udara, dan jatuh ke dekapan samudera. Karena aku mendekatkanmu, pada hatiku. Seperti bulu mata dan kedipan-kedipannya. Seperti dada dengan detak jantungnya yang tak pernah alpa. Seperti nafas yang kau helaa... kadang pelan, kadang resah tak tertahan... Ah, rindumu itu dan sentuhan hangat di pipiku. "Mengapa begitu lama, Cinta. Kau sadari, aku bermakna..." "Karena engkau mendekatkanku, pada hatimu. Mau tak mau... tak perlu umpama atau aksara. Betapa aku mengerti setiap sentuh adalah kata yang tak meluruh dan biarkan jeda antara kita memompa lembut setiap rindu, membekunya di manik matamu yang sendu. Hingga kabut di wajahmu meneduh, bisumu nan angkuh, dalam hatimu gemuruuhh..." @myGuest room, justDedicated forMy boyFriend across the4 rivers. 08:05 a.m 190511